BAB II. LANDASAN TEORI

BAB II. LANDASAN TEORI

II.I. Pengertian Persepsi Konsumen
Untuk memahami perilaku masyarakat dalam pembelian barang dan jasa tersebut di butuhkan studi tersendiri. Perusahaan berkepentingan dengan hampir setiap kegiatan manusia yang hanya dalam lingkup yang lebih terbatas. Perilaku konsumen sangat komplek dan sulit di prediksi. Pendekatan-pendekatan yang selama ini banyak digunakan untuk menyingkap sikap, minat, dan perilaku konsumen mengansumsikan bahwa konsumen bersikap rasional dalam setiap keputusan pembelian.
Pengertian persepsi adalah satu proses dengan mana seseorang menyeleksi, mengorganisikan, dan mengertepretasikan stimuli kedalam suatu gambaran dunia yang berarti dan menyeluruh (Bilson Simamora, 2004:102). Berarti persepsi konsumen adalah proses dimana konsumen melihat, merasakan dan mengenal perusahaan bisnis waralaba dengan berbagai macam aspek-aspek yang mencitrakan produknya.
Adapun definisi lain dari perilaku konsumen adalah tindakan langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini (Engel dan Blackwell, 1994:3).
Menurut kotlert dan Amstrong yang di kutip oleh Simamora (2001:81) mengartikan perilaku konsumen sebagai perilaku pembelian akhir, baik individu maupun rumah tangga, yang membeli produk untuk konsumsi personal.

Dari definisi di atas dapat di ambil kesimpulan :
1. Perilaku konsumen menyoroti perilaku individu dan rumah tangga,
2. Perilaku konsumen menyangkut suatu proses keputusan sebelum pembelian serta tindakan dalam memperoleh, memakai, mengkonsumsi dan menghabiskan produk,
3. Mengetahui perilaku konsumen meliputi : perilaku yang dapat diamati seperti jumlah yang di belanjakan, kapan, dengan siapa, oleh siapa, dan bagaimana barang sudah dibeli dan dikonsumsi.

II.2. Pengertian Waralaba/Franchising
Waralaba/franchising adalah perjanjian pembelian hak untuk menjual produk dan jasa dari pemilik usaha. Pemilik usaha disebut franchisor atau seller, sedangkan pembeli franchising disebut dengan franchisee. Dalam perjanjian waralaba, franchisor akan memberikan bantuan dalam memproduksi, operasiobal, manajemen dan bahkan masalah keuangan. Biasanya franchisor akan membantu franchisee mulai dari tahap awal usaha seperti pemilihan lokasi,mendesain toko, peralatan cara memproduksi, standarisasi bahan, recruiting dan training pegawai. Sebaliknya franchisee akan terikat dengan peraturan yang berkenaan dengan mutu produk / jasa yang ditawarkan. Franchisee juga terkena kewajiban dengan keuangan kepada franchisor seperti dengan pembayaran royalti secara rutin atas kekayaan intelektual franchisor.
Secara ringkas pengertian lain waralaba adalah hubungan bisnis antara pemilik merek, produk dan sistem operasioal dengan pihak kedua berupa pemberian izin pemakaian merek, produk, sistem operasional dalam jangka waktu tertentu (Hendri Ma’aruf, 2005:90).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bisnis waralaba adalah hubungan kontraktual antara franchisor dengan franchisee dimana franchisor menawarkan dan wajib memelihara kepentingan yang terus menerus pada usaha waralaba, seperti bidang pengetahuan, pelatihan. Waralaba beroperasi dibawah merk / nama dagang yang sama, format dan prosedur dimiliki atau dikendalikan oleh franchisor dimana franchisee telah melakukan investasi didalamnya dengan sumber dananya sendiri.

II.3. Produk yang dijual
Adalah kegiatan pengadaan barang-barang yang sesuai dengan bisnis yang dijalani toko untuk disediakan dalam toko pada jumlah, waktu dan harga yang sesuai untuk mencapai sasaran toko atau perusahaan ritel (Hendry Ma’ruf, 2005:135).
a. Manajemen marchendise
Gerai Indomaret yang berformat minimarket mempunyai komposisi marchendise seperti berikut:
a. Produk makanan dan minuman 60%,
b. Produk non makanan 20%,
c. Perishapble ( seperti buah-buahan yang cepat busuk) 10%,
d. Poduk umum 10%. (Kompas, 9 februari 2003)

II.4. Penetapan Harga/Price
Penetapan harga adalah yang paling krusial dan sulit diantara unsurunsur dalam bauran pemasaran ritel ( marchandise, promosi, atmosfer dalam gerai, harga ritail service). Harga adalah satu-satunya unsur dalam berbagai unsur bauran pemasaran itu yang bakal mendatangkan laba bagi peritel. Sedangkan unsur yang lain menghabiskan biaya (Philip Kotler,1993:225). Perusahaan haruslah mempertimbangkan banyak faktor dalam menyusun kebijakan menetapkan harganya yaitu (Philip Kotler, 1993:255 ):
a. Perusahaan dengan cepat membuat sasaran pemasaran apakah bertahan, mengambil keuntungan sekarang yang maksimum, atau yang lainnya,
b. Menentukan permintaan,
c. Memperkirakan biaya,
d. Menganalisis penawaran harga para pesaing,
e. Memilih metode apa yang akan digunakan,
f. Memilih harga akhir.

Implementasi strategi harga yang dapat dipergunakan peritel (Hendry Ma”ruf 2005:174):
a. Penetapan harga secara customary pricing adalah harga tetap tidak berubah, misal produk Koran,
b. Penetapan harga ganjil seperti Rp 99.999,
c. Leader pricing penetapan harga dimana profit margin-nya lebih rendah dari tingkat yang biasanya diraih, diterapkan dengan tujuan menarik konsumen lebih banyak.
d. Penetapan harga paket adalah harga yang didiskon untuk penjualan lebih dari satu item-nya misal harga 1 item jika dijual 2 langsung harganya menjadi Rp 9700,
e. Price lining (harga bertingkat) penetapan harga secara bertingkat dengan batas atas dan batas bawah.

II.5. Promosi dan Iklan
Iklan memberi urutan pertama dan berperan prima diantara semua alat dalam promotion mix bagi peritel besar. Periklanan mempunyai tujuan sebagai berikut ini (Hendry Ma’aruf,2005:185):
a. Memberi informasi, yaitu untuk memberitahu adanya produk baru, adanya progaram sales promotion, adanya pelayanan baru, atau yang memperbaiki kesalah-pahaman, atau untuk membangun citra perusahaan,
b. Bersifat membujuk, yaitu untuk membangun rasa suka konsumen kepada perusahaan, membujuk untuk datang ke gerai, membujuk untuk mencoba produk baru,
c. Mengingatkan, yaitu untuk mengingatkan pelanggan bahwa perusahaan “kami” selalu menjual produk berkualitas, mengingatkan konsumen dari waktu ke waktu untuk berbelanja di gerai “kami”.

Jenis-jenis sales promotion menurut Hendry Ma’aruf, (2005:188) adalah:
a. Poin of purchase,
b. Kontes
c. Kupon,
d. Program pelanggan setia/member,
e. Hadiah langsung,
f. Sample produk,
g. Demonstrasi,
h. Acara-acara khusus,
i. Sovenir.

Dengan iklan yang dihadirkan kepada konsumen terdapat kelebihan dan kekurangan antara lain :
1. Kelebihan dengan media iklan, yaitu :
a. Audien yang dicakup berjumlah besar,
b. Biaya perpembaca, pendengar, penonton relatif rendah,
c. Pilihan media banyak sehingga mempermudah peritel memilih yang cocok untuk sasaran pasarnya,
d. Peritel menguasai penuh disain iklan yang diinginkan,
e. Dalam media cetak, pesan dapat selalu dibaca ulang,
f. Iklan dikelilingi oleh berita sehingga memperkuat kredibilitas iklan,
g. Konsumen dapat mengetahui peritel mana yang memberi pelayanan baik

2. Kekurangan dengan media iklan, yaitu :
a. Karena pesan bersifat kaku sehingga peritel tidak mudah mengganti pesan dengan cepat,
b. Iklan televisi membutuhkan biaya yang besar,
c. Tidak dapat digunakan oleh peritel yang wilayah operasinya kecil jika menggunakan media lokal,
d. Media Koran atau majalah jika disisipkan di koran sering kali tidak terbaca bahkan langsung dibuang,
e. Iklan yang terlalu ringkas sehingga tidak mencakup semua.

II.6. Lokasi
Lokasi adalah faktor yang sangat penting dalam bauran pemasaran ritel (ritail marketing mix), pada lokasi yang tepat, sebuah gerai akan lebih sukses di banding gerai lainnya yang berlokasi kurang strategis, meskipun keduanya menjual produk yang sama, oleh pramuniaga yang sama banyak dan terampil, dan sama-sama punya setting atau ambience yang bagus.
Sebelum suatu toko atau pusat perbelanjaan didirikan, langkah pertama adalah mempelajari suatu area agar investasi yang di tanamkan dapat menguntungkan. Area perdagangan adalah suatu wilayah dimana beberapa perusahaan menjual barang atau jasa secara menguntungkan, luas suatu traiding area dapat bervariasi pada jenis gerai.
Keputusan mendirikan gerai besar atau kecil tergantung pada keadaan traiding area yang dilayani. Suatu wilayah yang berpenduduk banyak yang berpenghasilan cukup besar adalah traiding area yang menarik banyak pengecer. Sebaliknya, wilayah lain yang berpenghuni sedikit yang berpenghasilan tidak banyak adalah traiding area yang kurang menarik karena hanya akan menunjukan satu atau dua gerai ritel saja, wilayah yang dijadikan sebagai ajang penjualan oleh suatu toko dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu wilayah perdagangan utama, wilayah perdagangan sekunder, dan wilayah tambahan.

II.7. HIPOTESIS
Hipotesis adalah suatu pendapat atau kesimpulan tentang adanya suatu hubungan tertentu antara variable-variabel yang digunakan yang sifatnya masih sementara (Soeratno,1999:22).
Dalam penelitian ini yang menjadi hipotesis adalah: Adanya perbedaan persepsi konsumen Indomaret dengan persepsi konsumen minimarket lainnya. Konsumen akan mengubah persepsinya ke waralaba Indomaret dikarenakan beberapa variabel antara lain seperti : Produk yang dijual, Harga/Price, Pelayanan, Kenyamanan, Fasilitas, Lokasi, Promosi dan Iklan.
Dengan tersebut konsumen akan lebih tertarik kepada waralaba Indomaret perum. Margahayu Jaya Bekasi, karena variabel-variabel yang tersedia sehingga konsumen rela mengunjungi demi keinginannya terpenuhi dan terus menerus pasca membeli, pada akhirnya peningkatan konsumen akan terjadi dan mencapai titik batas kestabilan konsumen yang datang. Maka, laba/profit akan diperoleh pemilik franchise.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: