review jurnal

REVIEW JURNAL
-Rachmandianto-

1. Riview Jurnal 1

a. Tema : Waralaba

b. Judul : Jurnal “Waralaba Alternatif Strategi Bisnis”

c. Pengarang : Moch. Irsad

d. Latar belakang masalah : Dalam era globalisasi dewasa ini persaingan bisnis sangat ketat, baik antar perusahaan dalam suatu negara, regional maupun secara global. Dalam kondisi demikian untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidup suatu perusahaan maupun bagi perusahaan baru yang akan memasuki lingkungan bisnis harus mempunyai strategi yang tepat sehingga mampu bersaing dengan perusahaan yang sudah ada maupun yang akan muncul. Jadi dalam persaingan global ini perusahaan tidak hanya berpikir mengatasi persaingan lokal dalam suatu wilayah negara melainkan juga harus diperhitungkan kemungkinan masuknya pesaing mancanegara.

Waralaba / franchising dapat dipilih sebagai salah satu alternatif strategi dalam pengembangan bisnis karena kapasitas pasar yang dipengaruhi oleh srtuktur penduduk, daya beli dan pola konsumsi yang terbatas. Dengan terbatasnya kapasitas pasar perusahaan perlu mengembangkan pasar diluar jangkauan pasar yang telah kuasai namun memiliki kendala antara lain kemampuan manajemen, modal dan tenaga kerja yang terbatas juga dimungkinkan adanya kendala masalah perijinan perusahaan dapat mengembangkan pasarnya melalui usaha franchising.

e. Tujuan :
1. Pemilihan strategi perusahaan dalam pencapaian tujuan perusahaan yang tepat.
2. Untuk mengetahui keuntungan dan kerugian yang ada dalam bisnis franchising.

f. Metodologi : bagi perusahaan yang akan mengembangkan bisnisnya perlu memilih strategi yang tepat yang didasrkan pada kekuatan dan kelemahan yang dimiliki serta adanya kesempatan dan ancaman yang mungkin timbul dalam lingkungan bisnis. Strategi pertumbuhan yang harus dipilih antara lain terdiri dari :

1. Konsentrasi,
2. Perluasan pasar,
3. Pengembangan produk,
4. Integrasi horizontal,
5. Integrasi vertikal,
6. Diversifikasi konsentrik,
7. Diversifikasi konglomerasi.

Dalam franchising ini terjadi penggabungan sumberdaya yang dimiliki franchisor berupa ide pengembangan perusahaan, nama perusahaan, produk yang telah dikenal konsumen, logo/simbol, pengalaman menjalankan perusahaan, kemampuan manajemen dan lainnya. Sementara sumber daya yang dimiliki franchise adalah berupa pengalaman berusaha, modal, lokasi, ide, membangun perusahaan franchising setelah dipadukan dengan sumber daya franchisor untuk mendapatkan keuntungan bersama.

Salah satu alasan kuat bagi franchise membangun perusahaan franchising adalah untuk menghindari kegagalan pasar dimana produk/jasa yang akan ditawarkan sudah dikenal masyarakat. Sehingga tahapan dalam mengkomunikasikan produk yang ditawarkan hingga sampai ditangan konsumen terjadi lompatan dari fase-fase seperti dalam mengkomunikasikan produk yang benar-benar baru (konvensional).

Bagi perusahaan baru (konvensional) untuk memasarkan produk yang dihasilkan hingga sampai tangan konsumen harus memperkenalkan sehingga konsumen tahu tentang produk (aware) tersebut. Kemudian menunjukkan manfaat sehingga konsumen tertarik (interest). Kemudian ada hasrat untuk memiliki (desire) dan terakhir adalah membeli (action).

g. Hasil dan Kesimpulan : Persaingan global menuntut pengusaha tidak hanya mengantisipasi persaingan dari kompetitor lokal namun juga harus memperhitungkan kompetitor regional maupun global. Waralaba / franchising sebagai salah satu strategi bisnis yang memberikan keuntungan baik kepada franchisor maupun kepada franchisee, disamping juga ada kerugian yang ditanggungnya. Franchising memberikan tambahan keuntungan bagi franchisor tanpa melakukan tambahan investasi, sedangkan keuntungan utama franchisee adalah tingkat kegagalan pasar relatif kecil karena usaha yang dilakukan sudah populer dalam masyarakat.

h. Saran : Untuk membentuk frinchising bagi franchisor maupun franchisee harus saling memperhitungkan mitra bisnisnya apakah franchising yang akan didirikan benar-benar memberikan manfaat yang lebih bila dibandingkan dengan investasi langsung (bagi franchisor) atau membuka perusahaan yang benar-benar baru (bagi franchisee). Nama besar frinchisor yang didukung dengan barbagai keunggulan apabila dipadukan dengan franchisee yang juga memiliki berbagai keunggulan akan menghasilkan perusahaan franchising yang dapat berkembang dengan pesat.

Sehingga yang harus dilakukan baik oleh calon franchisor maupun calon franchisee sebelum memutuskan untuk membangun perusahaan yang akan dijadikan mitra kerja tersebut benar-benar memenuhi kualifikasi yang baik agar perusahaan franchising yang akan didirikan nantinya berjalan baik dan saling menguntungkan.

2. Riview Jurnal 2

a. Tema : Waralaba

b. Judul : Jurnal “Waralaba Sebagai Salah Satu Alternatif Untuk Mengembangkan Bisnis”

c. Pengarang : Viriany

d. Latar belakang masalah : Waralaba / franchising menjadi salah satu alternatif pilihan pengembangan usaha karena banyak keuntungan yang akan diperoleh si penerima waralaba / franchisee. Penerima waralaba diberikan hak untuk memanfaatkan hak atas kekayaan intelektual dan sistem kegiatan operasional dari pengusaha pemberi waralaba / franchisor, baik dalam penggunaan merk dagang, merk jasa, hak cipta atas logo, desain industri, paten berupa tekhnologi, maupun rahasia dagang. Pemberi waralaba selanjutnya memperoleh imbalan royalti atas penggunaan hak atas kekayaan intelektual dan sistem kegiatan operasial mereka oleh penerima waralaba / franchisee.

e. Tujuan :
1. Dimaksudkan untuk mengetahui potensi bisnis pada perusahaan franchising.
2. Untuk mengetahui hak penerima waralaba dalam franchising.

f. Metodologi : Seperti halnya diluar negeri, waralaba juga sangat menjamur di Indonesia. Banyak investor yang mengambil waralaba di luar negeri dan berhasil mengembangkannya di Indonesia.

Menurut catatan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) hingga sekarang ada sekitar 280 perusahaan waralaba yang menggelar bisnisnya di Indonesia. Dari jumlah itu, 235 merupakan waralaba asing dan 42 merupakan perisahaan waralaba lokal (palupi,2004:29).

Sementara ini, yang paling banyak berkembang adalah waralaba makanan. Di awal tahun 1990-an yang banyak masuk ke Indonesia adalah waralaba makanan dari Amerika Serikat, seperti Mc Donald’s, Wendys, A & W. namun selama tujuh tahun terakhir ini investor lebih tertarik dengan waralaba dari singapure misalnya; Bread Talk, Thai Express, Malaysia misalnya; Bread Story, Australia; Bush Juice, Dome. Selain waralaba makanan, waralaba pendidikan seperti Tumble Tots, High Scope dan Kumon, serta waralaba majalah asing juga tengah menjamur di Indonesia.

Melihat begitu banyaknya waralaba yang berkembang di Indonesia, tampaknya bisnis waralaba ini memang selalu layak untuk dikembangkan, terutama bagi pemain baru, mengingat waralaba ini merupakan salah satu jalan pintas untuk berbisnis.

Menurut Utomo Njoto, ada beberapa hal mendasaryang patut sebelum investor mengambil jalur waralaba Pambudi, 2004:133) :

1. Kredibilitas pemberi waralaba,
2. Para pembeli waralaba harus menganalisis bagaimana prospek bisnis yang akan ditekuninya,
3. Harus menykai bisnis waralaba bisnis waralaba yang akan ditekuni karena komitmen dan perhatian dari pembeli sangat di butuhkan,
4. Memiliki informasi yang cukup mengenai waralabayang akan digeluti.

Pemberi waralaba yang baik biasanya tidak asal memberikan hak waralabanya. Ada beberapa pertimbangan seperti: pengalaman bisnis calon penerima waralaba dan kondisi keuangan. Selain itu pemberi waralaba juga harus menilai komitmen dari calon pembeli waralaba, apakah sipembeli waralaba akan memenuhi standar dan peraturan yang sudah ditentukan oleh franchisor.

g. Hasil dan Kesimpulan : Waralaba merupakan suatu sistem pemasaran yang sangat efektif untuk mengembangkan suatu bisnis, terutama bagi pengusaha yang baru memulai bisnisnya dan belum berpengalaman. Bila diadopsi dengan baik maka waralaba akan memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi penerima waralaba, tetapi bila tidak diadopsi dengan baik maka akan mengalami kegagalan.

h. Saran : Suksesnya bisnis waralaba tergantung dari cara pengadopsiannya. Jika diadopsi dengan baik maka rata-rata bisnis waralaba akan sukses. Tetapi seperti halnya sistem pemasaran lainnya, waralaba bukanlah sistem yang tidak pernah gagal. Ditengah keberhasilan waralaba, kegagalan waralaba juga tidak sedikit. Untuk itu perlu diperhatikan, kegagalan dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti isi perjanjian kontrak kerjasama. Pembeli waralaba juga harus yakin bahwa waralaba yang dibelinya mempunyai merk yang terkenal yang dikenal oleh masyarakat / konsumen.

3. Riview Jurnal 3

a. Tema : Waralaba

b. Judul : Jurnal “Kajian Bisnis Franchise Makanan di Indonesia”

c. Pengarang : Dewi Astuti

d. Latar belakang masalah : Fenomena yang menarik di beberapa tahun ini yakni makin tumbuh suburnya bisnis franchise makanan. Kalu kita amati saat ini banyak sekali usaha baru yang sangat kreatif menawarkan berbagai jenis produk dan jasa, misalnya usaha makanan modern. Diantara mereka membuka gerainya di pusat-pusat pertokoan di jalan utama di lokasi yang strategis di tengah kota. Contoh yang sangat mudah adalah usaha makanan Mc Donald, KFC, Pizza Hut, Dunkin Donuts dll. Bahkan pembeli rela untuk meluangkan waktu yang cukup lama tertib dalam antrian untuk memilih produk dan membayarnya.

Berdasarkan latar belakang diatas, yang menjadi perhatian adalah faktor-faktor apa yang mendorong pertumbuhan bisnis franchise makanan di Indonesia?

e. Tujuan :
1. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mendorong pesatnya pertumbuhan franchise makanan di Indonesia.
2. Untuk mengetahui manajemen perusahaan franchising.

f. Metodologi : Franchise dapat dibagi dalam dua kelompok besar yaitu Franchise asing dan Franchise lokal. Franchise asing adalah franchisornya berasal dari luar negeri. Beberapa franchise asing yang sukses di Indonesia misalnya dalam bidang usaha makanan, miniman dan kafe antara lain Quickly, Baskin Robin, Starbucks, Mc Donald’s, Pizza Hut, Tony Romans, Ray hite, Planet Hollywood, KFC, dan lain-lain. Sedangkan dari franchise lain misalnya Sogo Dept. Store, Future Kids, English Fisrt dan lai-lain. Franchise lokal antara lain Es Teler 77, Mr Celup, Ayam Bakar Wong Solo, Mr Baso dan lain-lain.

Dari teori penunjang tentang franchise di atas, dapat dikembangkan lebih detail lagi mengenai keuntungan dan kerugian bentuk bisnis franchise di bidang makan sehingga dapat diperoleh hasil analisa lebih dalam. Beberapa keuntungan bentuk franchise makanan antara lain :
1. Franchise saat ini populer bagi usaha kecil dan menengah karena franchisor menawarkan keuntungan, bantuan manajerial dan pemasarannya bagi pengusaha yang bersedia menjualkan produk dan jasa franchisor,
2. Franchisor akan melakukan pelatihan secara berkala kepada pegawai frinchise,
3. Franchise akan mempunyai keuntungan pengalaman mengakses manajemen skills dari suatu bisnis besar,
4. Franchise mempunyai peluang untuk berkembang cepat.

Kerugian bagi franchise adalah :
1. Biaya Startup yang tingggi, karena selain kebutuhan investasi awal, franchise harus membayar pembelian franchise yang biasanya cukup mahal,
2. Franchise tidak bebas mengembangkan usahanya karena berbagai peraturan yang diberikan oleh franchisor,
3. Franchise biasanya terikat dengan pembelian bahan,
4. Franchise harus jeli dan tidak terjebak pada isi perjanjian dengan frinchisor, karena bagaimanapun biasanya perjanjian akan berpihak kepada principal/frinchisor dengan perbandinagn 60:40.

Keuntungan franchising adalah bisnisnya bisa berkembang dengan cepat di abnyak lokasi secara bersamaan, meningkatkan keuntungan dengan memanfaatkan investasi dari franchise.

Faktor yang sangat penting dari keberhasilan bisnis franchise makanan di Indonesia yaitu kekuatan permintaan konsumen. Hal ini ditunjang oleh daya beli masyarakat. Tinmgginya tingkat pertumbuhan tingkat daya beli konsumen dapat dilihat dari produk domestik bruto yang datanya penulis peroleh dari sumber Bank Indonesia sperti pada tabel 1.

Dari data diatas tampak bahwa produk domestik brutto bangsa Indonesia mengalami kenaikan terus menerus sejak tahun 2000. hal ini menjadi pendorong yang kuat akan bisnis makanan di Indonesia karena daya beli masyarakat meningkat.

Dengan menggunakan alat statistik SPPS for Windosws 10, diperoleh persamaan untuk perkiraan kuartal periode mendatang yaitu :

PDB Total (milliar rupiah) = 320.630,9+14.167,604 x

Selain itu dilihat dari produk domesti brutto sektor perdagangan, hotel yang mempunyai restoran serta resoran saja, diperoleh data sbb.

PDB sektor perdagangan hotel dan restoran juga mengalami kenaikan terus menerus, hal ini membeuktikan bahwa binis waralaba makanan terus berkem,bang dan potensial demand akan terus tumbuh. Hal ini menyebabkan motivasi pertumbuhan bisnis makanan baru, terus berlanjut. Dengan menggunakan alat statistik SPPS for Windosws 10, maka diperoleh persamaan sebagi berikut :

PDB sektor hotel & restauran (milliar rupiah) = 5.760,939+665,608 x

Faktor kesuksesan bisnis franchise makanan selain faktor kekuatan permintaan yaitu, keahlian manajemen. Untuk bisnis franchise seperti di tulis diatas, masalah manajemen franchise akan ditunjang oleh franchisor yang mempunyai keahlian manajerial denga kapasitas kemampuan lebih besar. Namun demikian franchise masih membutuhkan kerja keras untuk keberhasilannya karena franchisor bertindak sebagai penasehat sedangkan yang melaksanakan adalah franchisee.

g. Hasil dan Kesimpulan : Dari analisa di atas, beberapa kesimpulan yang dapat ditarik ada banyak faktor ikut menunjang keberhasilan bisnis franchise makanan di Indonesia, antara lain :
1. Bentuk franchise merupakan bisnis instant yang banyak diminati oleh pengusaha Indonesia karena pasar yang sudah tersedia serta beberapa keuntungan dari franchise itu sendiri seperti bantuan manajerial dan operasionalyang diberikan oleh frinchisor.
2. Terjadinya pergeseran budaya dari budaya tradisional menjadi budaya modern membantu suksesnya bisnis franchise makanan.
3. Motivasi membeli makanan asing / baru secara keseluruhan sangat tinggi, namun loyalitas merk sangat rendah. Konsumen makanan sangat peka terhadap perubahan mutu dan harga.
4. Menu bisnis franchise makanan menjangkau konsumen segala umur dengan berbagai paket menu untuk anak dan dewasa.
5. Sumber daya manusia dengan keahlian yang dibutuhkan banyak tersedia, program pelatihan dari franchisor secara rutin, mendorong tingginya pertumbuhan bisnis franchise makanan.

h. Saran : Dalam suatu perekonomian yang kompleks seperti sekarang ini, seorang pengusaha harus mampu menghadapi tantangan dan resiko untuk mengkombinasikan tenaga kerja, bahan, modal dan manajemen secara optimal sebelum memasarkan produk perusahaan tersebut. Seorang produsen harus mampu memproduksi barang secara efisien dalam jumlah maupun jenis sesuai dengan yang dibutuhkan konsumen dan seorang pengecer mampu menyediakan barang dengan harga yang layak sebagai konsumsi.dalam berbisnis para pengusaha harus dapat melayani pelanggannya dengan carayang efisien sehinga dapat memberikan keuntungan untuk kelangsungan perusahaan dalam jangka panjang. Selain itu para pengusaha juga harus mengetahui kesempatan-kesempatan baru untuk memuaskan keinginan konsumen.

_silahkan diberi coment sebagai acuan pembenaran kembali_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: